Minggu, 26 September 2021

Misteri Salvator Mundi, Lukisan Terakhir Leonardo da Vinci yang Penuh Teka-Teki (Bagian 2)

Posted By: ArssaTech - September 26, 2021

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Misteri Salvator Mundi, Lukisan Terakhir Leonardo da Vinci yang Penuh Teka-Teki - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Pelelangan lukisan ini di Christie's adalah sebuah drama yang dibuat-buat, dimulai dengan video marketing yang menunjukkan bukan lukisan itu, melainkan wajah para pengamat - kebanyakan adalah orang biasa tetapi salah satunya adalah aktor Hollywood, Leonardo DiCaprio - yang memandang gambar itu dengan hormat seolah-olah mereka menatap Yesus secara langsung.

Pembelinya tidak disebutkan namanya, tetapi surat kabar New York Times segera mengungkap bahwa sang pembeli mewakili Mohammad bin Salman, sebuah penemuan yang melambungkan lukisan itu ke ranah geopolitik.

Pada saat itu sang putra mahkota sedang berusaha memoles citra Arab Saudi dengan melonggarkan beberapa batasan.

Sebagian besar pengamat seni rupa dunia mengira Salvator Mundi akan menjadi pusat dari museum atau pusat seni baru di wilayah tersebut, tetapi lukisan itu tidak pernah terlihat di depan umum sejak itu.

Museum Louvre di Prancis sangat ingin memasukkannya ke dalam pameran akbarnya untuk merayakan ulang tahun ke-500 Leonardo pada tahun 2019. Mohammad bin Salman sendiri mengunjungi Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris tapi tidak ada kesepakatan tentang lukisan tersebut.

Hingga pratinjau media, ada ruang kosong di dinding yang menunggu lukisan Salvator Mundi digantung di sisinya, tetapi lukisan itu tak pernah tiba.

The New York Times mengonfirmasi desas-desus bahwa Louvre tidak akan menyetujui permintaan Mohammed bin Salman agar lukisannya dipajang di ruangan yang sama dengan Mona Lisa, memberikan status yang hampir setara.

"Louvre didukung oleh pemerintah, kementerian budaya dan akhirnya Macron," kata Cole. "Dan karena lukisan itu terlibat dalam politik seputar budaya. Jadi, jika Arab Saudi memutuskan bahwa mereka akan membuka diri dan Salvator Mundi akan menjadi pemain kunci dalam strategi itu dan Louvre menawarkan untuk memamerkannya, maka semua hal itu diikat menjadi satu."

Cole adalah orang pertama yang melaporkan, pada Maret 2020, keberadaan buklet setebal 46 halaman yang disiapkan Louvre untuk diterbitkan tetapi tidak pernah dirilis, yang menegaskan bahwa karya itu adalah karya asli Leonardo.

Karena Louvre tidak dapat mengomentari karya-karya milik pribadi yang tidak ditampilkan, buku tersebut tidak dapat diterbitkan, dan pada awalnya, kata Cole, museum menyangkal keberadaannya.

Skandal dan konspirasi

Sementara itu, film Savior for Sale karya Antoine Vitkine paling terkenal karena beberapa tambahan eksplosif tentang apa yang mungkin terjadi di balik layar di Louvre.

Film dokumenter ini mencakup banyak hal yang sama dengan The Lost Leonardo, tetapi kurang gaya, dengan terlalu banyak stok gambar kota dan tidak memiliki Modestini atau tokoh sentral lain yang menarik.

Kendati begitu, film ini memiliki dua sumber anonim, dengan wajah mereka tersembunyi di kamera, yang diidentifikasi sebagai pejabat tinggi pemerintah Prancis yang memiliki akses ke penelitian yang dilakukan Louvre tentang lukisan itu dan ke negosiasi Prancis-Saudi.

Salah satu sumber mengatakan Louvre menyimpulkan bahwa Leonardo hanya "berkontribusi pada lukisan itu," tetapi Mohammed bin Salman hanya akan menyetujui pinjaman jika Salvator Mundi diberi label sebagai karya Leonardo.

Sumber itu mengatakan ia memberi saran kepada pemerintah Prancis bahwa "memamerkannya dengan persyaratan Saudi akan seperti mencuci barang seharga Rp6 triliun".

Louvre dan Galeri Nasional menolak berkomentar untuk kedua film tersebut. Kedua film dokumenter itu dirilis pada saat film, siniar (podcast), dan budaya pop tampak terpesona oleh kisah kejahatan tentang seni, misteri, dan pemalsuan.

Dua film dokumenter, Made You Look dan Driven to Abstraction, mengisahkan kasus Galeri Knoedler di New York, yang selama hampir dua dekade menjual karya palsu yang diduga dibuat oleh para ahli abad ke-20 termasuk Mark Rothko dan Jackson Pollock.

Disadari atau tidak, itu masih menjadi pertanyaan. Serial Netflix This Is a Robbery menyelidiki pencurian karya agung tahun 1990, termasuk lukisan karya Rembrandt dari Museum Isabella Stewart Gardner di Boston. Serial ini penuh dengan teori konspirasi tentang perampokan yang tidak pernah terpecahkan.

Dan Lewis memiliki siniar dengan delapan episode baru, Art Bust: Scandalous Stories of the Art World, yang menjanjikan cerita tentang "kejahatan paling buruk, skandal terbesar, dan kesuraman di antaranya."

Subjek siniarnya berkisar dari Inigo Philbrick, yang didakwa secara pidana karena menipu klien dengan menjual lebih dari 100% saham karya seni, hingga peti mati emas Mesir yang diselundupkan dan terungkap setelah Kim Kardashian difoto di sebelahnya di ajang kostum gala yang digelar Metropolitan Museum. Sejak itu, Metropolitan Museum mengembalikan peti mati ke Mesir.

Bahwa kisah-kisah semacam ini sukses di siniar, di mana tidak ada seorang pun yang dapat melihat karya yang dideskripsikan, menunjukkan seberapa besar daya pikat kisah-kisah kejahatan seni saat ini dalam hal penipuan dan misteri, bukan estetika.

Banyak faktor tampaknya telah berkumpul untuk menciptakan momen yang berkembang ini untuk kejahatan seni sejati. Ada begitu banyak informasi di ruang publik sehingga setiap orang dapat memiliki ilusi menjadi orang dalam.

Ada semakin banyak platform untuk bercerita. Dan Lewis menunjukkan bahwa seiring dengan berkembangnya pasar seni, pandangan dunia kita sendiri telah berubah.

Sikap umum terhadap kejahatan seni, katanya, dulu diabaikan sebagai "miliarder menghabiskan uang, saling menipu", tetapi hari ini ada kesadaran bahwa "tidak, Anda tidak dapat menjarah seluruh warisan budaya negara itu".

Di tengah semua sejarah rumit yang menyenangkan ini, tidak ada yang menandingi Salvator Mundi. Kecuali jika dokumentasi baru muncul (tidak mungkin setelah berabad-abad ini), atau metode otentikasi ilmiah baru tiba (juga rumit karena karyanya telah sangat rusak), misteri itu mungkin terbukti abadi.

"Saya benar-benar yakin bahwa enam bulan ke depan atau satu tahun, akan ada semacam informasi baru, apakah benar atau tidak, yang akan meledak di mana-mana di media berita," kata Dalsgaard.

"Selama lukisan ini tersembunyi dari dunia dan masa depan serta nasibnya tidak diketahui, ia akan selalu diselimuti misteri dan dunia akan siap membaca sesuatu yang baru. Karena pada akhirnya, ini cerita yang menghibur."

0 komentar:

Posting Komentar

Blogger Templates Designed by: Templatezy / Sb Game Hacker Apk